Minggu, 06 Mei 2012

ban nitrogen

Submit to reddit
Keberadaan gas nitrogen yang digunakan untuk mengisi tekanan pada ban bukanlah hal baru dan sudah cukup lama di kenal, tetapi masih banyak para pengendara yang masih tidak mengetahui manfaat apa yang bisa didapat bila ban kendaraan diisi dengan gas nitrogen.
Menurut Tonny salah seorang manager dari bengkel Andala Ban di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, walaupun sedikit lebih mahal dibandingkan di isi dengan angin biasa, ban yang di isi nitrogen memiliki banyak manfaat dibandingkan ban yang masih menggunakan angin biasa. Manfaat yang bisa didapat bila ban memakai nitrogen diantaranya sebagai berikut :


  • Pertama yang bisa dirasakan adalah bantingan suspensi mobil akan terasa lebih lembut dibandingkan jika ban masih di isi dengan angin biasa. Hal ini karena gas nitrogen dapat menjaga elastisitas ban yang digunakan, sehingga kelenturan karet ban menjadi terjaga.
  • Nitrogen dapat menutup pori-pori karet ban dengan baik, membuat tekanan ban bertahan lebih lama, lebih kurang hingga 1 bulan lamanya, berbeda hal dengan angin biasa yang biasanya setelah 4 atau 5 hari tekanannya mengalami pengurangan. Selain itu nitrogen dapat juga memberi lapisan semacam oli, yang dapat membuat bagian dalam ban tidak mudah kering.
  • Nitrogen tidak mudah memuai dan terpengaruh temperatur panas, membuat tekanan ban yang di isi nitrogen mampu stabil saat kondisi ban sudah terpengaruh temperatur panas, baik itu saat mobil melaju pada kecepatan tinggi seperti saat melintasi jalan tol ataupun saat kondisi pemukaan jalan menjadi panas. Jika menggunakan nitrogen resiko pecah ban akibat tekanan ban yang meningkat dapat dikurangi.
  • Dalam keadaan darurat, seperti ketika ban bocor, nitrogen tetap bisa di campur dengan angin biasa. Tapi lebih baik, jika telah menemukan bengkel yang dapat mengisi ban dengan nitrogen, tekanan ban dikuras secepat mungkin dan kembali di isi dengan nitrogen.

Untuk mengisi ban dengan nitrogen, ban yang masih menggunakan angin biasa harus dikuras lebih dahulu, kurang lebih biaya untuk pengurasan dibanderol serta pengisian awal dengan nitrogen itu 20 ribu rupiah untuk satu ban, dan jika hanya menambah, biasanya dikenakan biaya 10 ribu rupiah untuk satu ban. Biasanya setelah ban di isi nitrogen, biasanya penutup pentil akan diganti dengan yang berwarna hijau terang sebagai tanda.

Memang di Indonesia, tempat pengisian nitrogen untuk ban umumnya hanya terdapat pada bengkel besar, tidak sama dengan pengisian angin biasa yang dapat ditemukan dipinggiran jalan atau bengkel kecil. Bila di isi dengan nitrogen, pengendara mendapatkan rasa aman dan nyaman yang lebih saat berkendara.

(can20)


Incoming search terms:

ban nitrogen (12),manfaat gas nitrogen untuk ban (5),isi angin ban nitrogen (3),kelebihan nitrogen (3),nitrogen ban (3),kelebihan angin nitrogen (3),manfaat nitrogen untuk ban motor (2),manfaat nitrogen bagi ban motor (2),isi ban nitrogen (2),ban isi angin nitrogen (2)
Indeks Artikel
Persiapan Pendakian Gunung
Persiapan Perdakian Gunung (2)
Semua Halaman
Banyak remaja sering mengisi waktu liburan dengan naik gunung. Namun, karena ketidak-tahuan, kegiatan fisik berat itu sering tidak disiapkan dengan baik.Padahal, mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern, dan kebugaran fisik mutlak diperlukan.

Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu tergila-gila naik gunung. *Because it is there, *ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapa luas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang. Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya.

Anggota-anggota Mapala Universitas Indonesia-kelompok pencinta alam tertua (bersama Wanadri Bandung) di Indonesia-contohnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory. Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung.

Yang jelas, tidak seorang petualang alam-komunitas di Indonesia lebih senang menggunakan istilah pencinta alam-melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahan. Karena bukan untuk gagah-gagahan, maka sebaiknya tidak ada istilah modal nekad dalam mendaki gunung.

Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin,kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik.

Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa. Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.

Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu. Diri pendaki, segala persiapan, dan kemampuannya itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung.

Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.

Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak.

Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai.

Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max).